Refleksi Sejarah Perjuangan Buruh


ManifesT - Malang (1/5) Buruh merupakan suatu pekerjaan yang meliputi segala bidang, buruh bekerja di pabrik, bekerja di bidang pendidikan, pertanian, perbankan, swasta, bahkan seorang jurnalispun dapat dikatakan seorang buruh, karena ia bekerja disuatu media yang dapat dianalogikan jurnalis sebagai pekerja dan media sebagai pabriknya. Definisi buruh menurut Undang – Undang dijelaskan dalam pasal 1 ayat (3) UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, berbunyi “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”, selain itu menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti kata “buruh” memiliki arti “orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah” atau dapat disebut “pekerja”. 

Para “pekerja” ini memiliki arti luas jika kita melihat dari sisi pekerjaan, dan meliputi segala bidang yang kita ketahui sekarang ini. Terlebih lagi dalam pasal 1 ayat (2) UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pemaknaan tentang buruh atau tenaga kerja ini memiliki arti yang berbunyi “Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”. Dalam penjelasan ini memiliki arti, bahwa buruh adalah pekerjaan yang dilakukan oleh manusia untuk menghasilkan barang atau jasa yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan masyarakat.

Buruh sendiri memiliki 2 klasifikasi yaitu, yang pertama adalah buruh profesional, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang lebih tinggi, yang biasanya bekerja di bidang yang mempunyai kemampuan khusus atau ilmu khusus dalam pekerjaan tersebut, seperti contohnya adalah para jurnalis, programmer, dan lain sebagainnya, yang kedua ada buruh kasar, yaitu buruh yang di pekerjaan untuk pekerjaan kasar dan memiliki keahlian minim, seperti kuli bangungan, kuli panggul, buruh pabrik dan lain sebagainnya.

 Sejarah dan Perkembangan Kaum Buruh
  
Dalam perkembangan buruh ini, memiliki sejarah yang panjang, dapat kita lihat dari referensi dan catatan – catatan sejarah. Suatu peradaban tidak mungkin menjadi besar dan jaya, jika tidak dibantu oleh kekuatan buruh. Dalam sejarahnya buruh dianggap sebagai pekerja yang bekerja di bidang “kasar”, seperti contohnya tukang pinggul, tukang bangunan, dan pekerjaan – pekerjaan kasar lain, pada tahun 2500 Sebelum Masehi (SM), yaitu zaman Mesir kuno, para buruh ini mempunyai sebutan lain, yaitu “budak”, para budak ini bekerja untuk sang firaun (raja Mesir) untuk membangun piramida yang megah di Mesir, para budak ini bertugas untuk mengambil batu – batu yang terletak jauh di bukit – bukit dan gunung di dataran Mesir yang mempunyai iklim tropis yang sangat panas, mereka bekerja dari pagi hingga malam yang tidak mengenal lelah, untuk membangun piramida, yaitu bangunan yang menjulang tinggi berbentuk segitiga yang dipersembahkan sebagai tempat makam yang megah bagi para firaun. Para buruh era Mesir ini tidak diupah sama sekali, mereka hanya diberi makanan dan minuman yang sedikit, bahkan sebagian tidak sama sekali, mereka bekerja hingga mati untuk pembangunan dan kejayaan peradaban.

Pada abad ke 10 Masehi, para buruh bekerja untuk para penguasa feodal dan para “Land Lord” atau tuan tanah. Para buruh ini bekerja dengan upah yang sangat minim dan dengan kondisi yang sangat memprihatikan. Para buruh ini menjadi budak yang sangat murah untuk diperjualbelikan untuk menggarap tanah milik majikannya. Loyalitas kepada tuannya merupakan suatu keharusan yang harus diterapkan kepada para buruh, yang hanya bertugas mengabdi bagi para penguasa yang memberinya sedikit upah untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya. 

Era berganti lagi ke sekitar abad 15 Masehi, ketika sedang gencar - gencarnya praktek kolonial dan imperialisme bangsa – bangsa barat terhadap bangsa jajahan mereka, para penjajah ini menjajah bangsa lain dengan semboyan 3G (Gold, Glory, Gospel), yaitu untuk mencari emas atau keuntungan, kemenangan atau tanah jajahan baru, dan menyebarkan ajaran agama mereka. Para penjajah ini juga mempekerjakan para budak yang diambil dari negara jajahan mereka dan kaum pribumi ditempat mereka jajah. 

Sekitar abad ke 17 munculah Revolusi Industri, yaitu revolusi tentang ditemukannya teknologi baru untuk memproduksi suatu barang dengan mesin. Revolusi Industri ini berawal dari negara Inggris dan menyebar ke negara – negara Eropa lainnya. Dengan berkembangnya era revolusi industri menjadikan para kaum kolonial dan imperial bangsa Eropa semakin rakus dalam mengeksploitasi sumber daya alam negeri jajahan mereka. Para penjajah ini mengambil tanah milik kaum pribumi dan mendirikan pabrik – pabrik yang mempekerjakan mereka untuk mengolah bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi, dan dikirim ke negaranya untuk keperluan finansial negara dan perdagangan. Seperti contohnya di Indonesia munculnya pabrik – pabrik gula di daerah penghasil tanaman tebu di Jawa dan Sumatera. Dalam era ini, rempah – rempah dan agrikultur seperti kopi,gula, dan tanaman – tanaman yang menjadi obat, bagaikan emas jika dijual di pasar Eropa. 

Sejak revolusi industri juga muncul kaum baru, yaitu “kaum borjuis”, yang terdiri dari masyarakat kelas menengah atau “middle class”, yaitu para pengusaha yang mempunyai alat produksi dan mempunyai modal dalam membuat suatu perusahaan atau pabrik, serta ada “kaum proletar” yaitu terdiri dari kaum buruh, tani atau masyarakat dengan kasta rendah. Para borjuis ini memperkenalkan sebuah paham yang dinamakan “kapitalisme” yaitu suatu paham dimana para pemilik modal dan kaum pengusaha bebas menguasai alat produksi, dan mempekerjakan kaum proletar untuk meraup keuntungan sebesar – besarnya dari hasil kerja para buruh. Para buruh pada era itu diberlakukan dengan semena – mena, mereka memberi upah yang sangat kecil kepada kaum buruh, menyuruh bekerja 10 hingga 20 jam sehari, serta hak – hak asasinya dibatasi. Dalam pelaksanaan kapitalisme ini, para borjuis bertujuan meraup keuntungan sebesar – besarnya tanpa melihat jerih payah dan hak – hak buruh yang diabaikan, praktek kapitalisme ini menyebabkan para pengusaha yang kaya semakin kaya dan para buruh yang sudah miskin menjadi semakin miskin.

Dalam perkembangannya juga, para buruh ini juga membentuk suatu perkumpulan, yang dinamakan “serikat buruh”, dalam serikat tersebut para buruh berkumpul, berdiskusi, dan bergabung bersama untuk menyatukan kekuatan dalam menuntut hak – hak buruh. Dalam era pergolakan dan perjuangan buruh dalam menuntut hak – haknya, juga di motori oleh beberapa filsuf dan tokoh terkemuka seperti Karl Marx, Bakunin, Engels, dan lain sebagainnya. 

Awal Mula munculnya “May Day”


Pada tanggal 4 Mei 1886, terjadi kerusuhan di lapangan Haymarket, Chicago, Amerika Serikat. Dalam kerusuhan tersebut melibatkan sekitar 400.000 buruh, mereka menuntut tentang pengurangan jam kerja dan hak - hak buruh lainnya, mereka membawa spanduk yang bertuliskan “8 jam kerja 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi”  bagi para buruh tuntutan mereka ini, menentang terhadap jam kerja yang tidak manusiawi yang di terapkan oleh pabrik – pabrik pada saat itu, mereka menetapkan jam kerja bagi para buruh hingga 10 sampai 20 jam sehari. Dalam demonstrasi ini berlangsung hingga 4 hari lamannya, dimulai dari tanggal 1 Mei sampai 4 Mei 1886. Para buruh yang sedang berdemonstrasi tersebut di tembaki oleh pihak kepolisian secara membabi buta, mengakibatkan ratusan buruh tewas, di tangan pihak kepolisian. Para buruh yang tewas dalam kejadian ini disebut “martir” karena mereka tewas dalam memperjuangkan hak – hak kaum buruh.

            Kemudian di tahun 1890, setelah kejadian “Haymarket”, para kaum Sosialis Eropa berkumpul dan menggelar Kongres Sosialis Dunia yang digelar di Paris, Prancis. Dalam kongres tersebut membahas tentang hak – hak buruh setelah kejadian kerusuhan Haymarket di Chicago, Amerika Serikat. Akhirnya hasil dari kongres tersebut menghasilkan kesepakatan, bahwa tanggal 1 Mei sebagai hari buruh Internasional.

Buruh – Buruh, Era Orde Baru dan ancaman setelah Reformasi 


             Di Indonesia sendiri, peringatan hari buruh menjadi hal yang tabu, setelah kejadian G30S PKI pada tahun 1965, para buruh dan gerakannya dicap sebagai kekuatan “Komunisme”, dan kegiatan peringatan hari buruh sempat dilarang di era orde baru kala itu karena dianggap Subversif atau tindakan upaya pemberontakan untuk merobohkan pemerintahan dan sistem negara. Setelah era Reformasi sendiri, para buruh masih gencar dalam proses menuntut hak – haknya terhadap para majikan mereka, beberapa tuntutan yang menjadi bahan orasi setiap tahun masih sama yaitu seperti, tentang permintaan kenaikan upah, dan tentang pemenuhan kesejahteraan buruh yang meliputi berbagai aspek. 

Terlebih lagi ancaman tentang perkembangan teknologi yang semakin canggih memaksa buruh meninggalkan pekerjaannya, karena mesin – mesin canggih menggantikan peran manusia dalam proses produksi, akibatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) banyak terjadi di pabrik – pabrik yang menggunakan teknologi yang canggih untuk efisiensi dalam proses produksi. 



Daftar Pustaka :

Septianingnum, Anisa. 2017. Revolusi Industri, Sebab dan Dampaknya. Yogyakarta: Sociality

Ditulis oleh : Rinalvin Achmad Wiryawan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.