Bersatulah Gerakan Buruh Kota Malang!


ManifesT – Malang (1/4) Peringatan Hari Buruh Internasional atau biasa dikenal dengan May Day diwarnai dengan aksi dari serikat buruh serta aliansi-aliansi di Kota Malang. Aksi ini  didasari atas tuntutan-tuntutan ketidakadilan yang disuarakan oleh para buruh. Pada tahun ini, aksi May Day yang dipusatkan di Balai Kota Malang diikuti oleh tiga aliansi massa. Hal ini berbeda dari tahun sebelumnya dimana ketiga aliansi massa bertemu pada satu  titik kumpul di Balai Kota Malang dengan didahului longmarch. Menariknya meskipun titik kumpul dan waktu aksi yang bersamaan, tuntutan yang dibawakan oleh masing-masing aliansi massa berbeda.

Aliansi massa yang digawangi oleh Serikat Gerakan Buruh Indonesia (SGBI) didukung oleh beberapa golongan seperti, Serikat Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI), pengemudi ojek online, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (BEM FEB UB), BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UB, Kolektif Persaudaraan Pemuda Merdeka (PPM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ekonomi UB, HMI Hukum UB, HMI Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UB, Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Malang, Arsitektur Sans Frontier Malang (ASF-MLG), Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Sulawesi Selatan (IKAMI Sulsel), dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapolitik) UB. Aliansi ini membawa sepuluh tuntutan yaitu, penolakan upah murah, pencabutan sistem kerja kontrak dan outsourching, perlawanan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, sanksi tegas perusahaan yang melanggar aturan hukum, pencabutan Peraturan Pemerintah Nomor. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan (PP Pengupahan), pendidikan dan kesehatan gratis bagi keluarga buruh, keselamatan dan kepastian kerja pengemudi online, akses perumahan layak, penuntutan hak normatif bagi buruh perempuan, dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Yang membedakan dalam aksi kali ini juga adalah dengan bergabungnya aliansi pengemudi ojek online dalam aksi ini. Bergabungnya pengemudi online ini didukung pula dengan para pengguna aplikasi transportasi online dengan tidak mengaktifkan aplikasi ojek online selama satu hari.

Berbeda lagi dengan Front Pembela Buruh Indonesia (FPBI) yang bergabung dengan dua aliansi yaitu Forum Mahasiswa Hukum Peduli Keadilan Fakultas Hukum (Formah PK) dan BEM Fakultas Hukum UB. Tuntutan yang diajukan adalah menolak Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (Perpres TKA), penolakan TKA, hapus outsorching, tolak Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan), penolakan upah murah, pengembalian fungsi pengawasan ke Dinas Ketenagakerjaan, penyelesaian kasus Rumah Sakit Manu Husada, perlindungan buruh dari praktek pemberangusan organisasi buruh, perbaikan pelayanan bpjs periksa dan adili pengusaha CV. Istana Gajayana.

Aliansi massa terakhir yang datang menyusul ke Balai Kota terdiri dari dua aliansi, yaitu Aliansi Rakyat Malang (ARM) dan Aliansi Rakyat Malang Bersatu (ARMB). Aliansi massa ini merupakan gabungan dari beberapa golongan dengan menyuarakan tuntutan yang sama.

“Gerakan kami terdiri dari para buruh, petani, perwakilan perempuan, nelayan, kaum difabel, dan perwakilan kaum minoritas. Serikat buruh yang bergabung dengan kami adalah Serikat Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI). Dalam aliansi kami juga ada perwakilan dari buruh PT. Indonesia Tobacco dan didukung pula oleh Malang Corruption Watch (MCW) dan Front Perjuangan Rakyat”, jelas Putut selaku Koordinator Lapangan (Korlap) dari ARM.

Tuntutan dari aliansi massa ini cukup berbeda dengan dua aliansi sebelumnya dimana isu-isu yang diangkat adalah isu-isu nasional yang cukup general. Mereka mengangkat terkait dengan demokratisasi yang terancam dengan beberapa regulasi pemerintah yang ada, kebijakan dari Pemerintah Pusat saat ini terkait reforma agraria yang cukup mengancam kedaulatan kaum tani, hak-hak perempuan yang diabaikan oleh pemerintah, kriminalisasi aktivis dan pejuang rakyat, adanya intervensi asing yang merupakan pangkal utama masalah rakyat, dan persoalan perburuhan. Isu terakhir yang merupakan isu sentral dari tuntutan kali ini pada dasarnya tidak terlalu berbeda dengan aliansi yang lain.

Adanya aliansi massa dengan tuntutan yang pada umumnya berbeda ini menjadikan aksi yang dilakukan tidak fokus. Koordinasi masing-masing pihak tidak mampu mempersatukan gerakan mereka. Sehingga perhatian terhadap aksi turun jalan kali ini sangat membingungkan dengan adanya lokasi yang berdekatan dengan orasi yang berbeda. Orasi yang disuarakan oleh masing-masing aliansi massa terkesan bersaing dengan saling sahut-menyahut.

“FPBI sebenarnya mau bergabung dengan mahasiswa, namun kami menolak bergabung dengan SGBI karena dari kami ada benturan”, terang Luthfi selaku ketua FPBI ketika diminta pendapat tentang perpecahan gerakan yang ada. Sedangkan menurut pihak APRM, Nano, koordinasi antar aliansi sesungguhnya telah dilakukan. Namun, pihak dari FPBI yang menolak untuk melebur katena adanya sentimen organisasi.

Idealisme yang berbeda dari ketiga aliansi massa ini menjadikan aksi yang seharusnya dapat dipersatukan menjadi terpisah adanya. Kurangnya koordinasi dan keengganan dari masing-masing pihak untuk menurunkan ego dan mempersamakan persepsi terkait kepentingan buruh menjadikan aksi May Day kali ini mengurangi kesakralan dari perjuangan buruh itu sendiri. (gio/sap)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.