Olimpiade Brawijaya Terancam Diberhentikan (?)

ManifesT - Malang (30/10) Olimpiade Brawijaya (OB) adalah ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB). Ajang ini melibatkan seluruh mahasiswa di UB dari seluruh fakultas, Program Pendidikan Vokasi, serta UB Kediri. Dalam penyelenggaraan OB, kompetisi terdiri dari 13 cabang seni dan 27 cabang olahraga. Sebagai salah satu program kerja tahunan Kemenpora EM UB yang terbesar, OB tidak dilaksanakan tanpa tujuan. Tio Fajar Ramadhan sebagai Ketua Pelaksana OB menjelaskan bahwa urgensi dari tetap diadakannya OB ini secara tidak langsung  yaitu untuk mahasiswa yang ada di Universitas Brawijaya (UB) dalam rangka persiapan pada ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) dan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). Selain urgensi tersebut, OB bertujuan untuk mempersatukan dan menjunjung  tinggi silahturahmi antar fakultas. Namun karena banyaknya dinamika yang terjadi dalam OB yang sarat akan unsur kericuhan dan perseteruan, tujuan itu belum dapat tercapai.
“Untuk tercapainya tujuan persatuan dan silahturahmi belum, tapi langkah sudah ada,” ujar Tio Fajar Ramadhan. Dinamika tersebut telah terjadi dalam kurun waktu yang lama. Dilansir dari Detik News Jawa Timur, aksi perseteruan antar suporter sudah terjadi di tahun 2010 antara Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPIK) dengan Fakultas Teknik (FT) hingga terjadi baku hantam. Kejadian serupa terus terjadi setiap tahun hingga penyelenggaraan OB tahun lalu. Tio memberikan keterangan pengalaman tahun lalu dengan tidak menyebutkan para pihak yang berseteru, “Jadi kita ambil pengalaman dari tahun lalu, panitia turun langsung supporter sudah baku hantam panitia langsung memisahkan,” tambahnya.
Untuk menunjukan satu bentuk evaluasi dan tindakan preventif perseteruan suporter antar fakultas, pihak panitia OB telah melakukan upaya yakni melalui suatu peraturan tertulis. Dalam kajian pembahasan peraturan tentang standar operasional keamanan yang disepakati oleh forum koordinator suporter, sanksi diskualifikasi dan tidak diperkenankan mengikuti OB selama dua tahun berturut-turut akan diberikan bagi fakultas yang melakukan pelanggaran berat berupa baku hantam/kontak fisik. Langkah pemberlakuan sanksi tersebut diklaim sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan persatuan dan silahturahmi di UB. Untuk menilai suatu tindakan disebut sebagai tindakan yang provokatif, telah disepakati bersama forum koordinator suporter dengan panitia OB bagaimana tolak ukur yang tertuang dalam peraturan tersebut.
Melihat pandangan pihak dari rektorat khususnya jajaran Wakil Rektor III bersama Staf Bidang Kemahasiswaan yang memandang bahwa sudah merasa jenuh dengan berlarut-larutnya perseteruan yang ada. Maka, konsekuensi yang dinyatakan oleh pihak rektorat yakni bilamana terjadi kericuhan dan perseteruan adalah pemberhentian segala aktivitas OB, “Konsekuensi dari pihak rektorat sendiri kalau memang terjadi sebuah kericuhan maka akan di stop untuk saat itu juga,” imbuh Ketua Pelaksana OB. (trs)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.