Ketua MK Tidak Hadir dalam Seminar, Peserta Tetap Antusias

ManifesT - Malang (08/10) Hari minggu pagi kemarin, tidak seperti hari minggu biasanya, Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya terlihat dipadati oleh beberapa mahasiswa. Selain mahasiswa Brawijaya sendiri, terlihat juga berbagai macam warna almamater kebanggan dari masing-masing universitas peserta lomba Constitutional Law Festival (CLFest). Gedung Widyaloka dipilih sebagai tempat terselenggaranya Seminar Hukum Nasional sebagai salah satu rangkaian acara sekaligus penutup dari keseluruhan rangkaian acara CLFest. Open gate sendiri telah dilakukan sejak pukul 07.00 WIB. Namun, para peserta maupun undangan baru terlihat memadati lokasi seminar pada pukul 08.30 WIB. CLFest sendiri merupakan kompetisi hukum nasional yang diadakan oleh Forum Kajian dan Penelitian Hukum (FKPH) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Kompetisi hukum yang diadakan FKPH dalam acara CLFest antara lain; Kompetisi Artikel Ilmiah (KAI), Kompetisi Legal Case Discussion, dan Kompetisi Perancangan Undang-Undang (KPUU).
Berbeda dengan tema besar yang digunakan dalam pelaksanaan acara sekaligus lomba yang telah dilaksanakan sebelumnya, “Penegasan Wewenang Mahkamah Konstitusi dalam Pembubaran Partai Politik untuk Mewujudkan Demokrasi yang Bermartabat” dipilih sebagai tema yang dibahas bersama dalam Seminar Hukum Nasonal, karena dirasa memiliki korelasi yang sangat erat dengan tema besar yang diangkat oleh CLFest. Untuk itu, panitia menghadirkan beberapa pemateri yang berkompeten terkait dengan tema atau isu yang diangkat. Pemateri pertama sebagai keynote speaker yaitu Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. selaku Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), selanjutnya Prof. Dr. Achmad Sodiki., S.H. selaku Wakil Ketua MK periode 2010-2013,  Dr. H. Harjono, S.H., Mcl. selaku Wakil ketua MK tahun 2008, dan yang terakhir adalah Arya Budi selaku Senior Manajer Riset Poltracking Indonesia. Menurut Faisal Aditya Wicaksono selaku ketua pelaksana CLFest, tidak ada hambatan yang berarti dalam pelaksanaan seminar hukum nasional tersebut. Masalah terbesar hanyalah ketika keynote speaker yaitu Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. yang dijadwalkan untuk hadir, secara mendadak memberikan kabar tidak bisa datang menghadiri Seminar Hukum Nasional sebagai pembicara. “Untuk itu, Kami selaku panitia memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para peserta seminar hukum nasional, beliau mendadak pagi hari ini memberikan kabar tidak bisa hadir karena ada acara lain.” Tutur Faizal Aditya selaku Ketua Pelaksana CLFest 2017. Walau Ketua MK tidak hadir, terlihat antusiasme yang sangat besar dalam Seminar Hukum Nasional ini. Antusiasme ini ditandai dengan banyaknya peserta seminar menanyakan perihal problematika pembubaran partai politik, dan terlihat juga dari kompleksnya pemateri dalam menjawab pertanyaan dari peserta seminar.

Pada akhirnya serangkaian acara ditutup dengan pengumuman pemenang dari kompetisi CLFest yang telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya. Momen inilah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh delegasi fakultas hukum se-Indonesia yang berkompetisi di CLFest. Perasaan tegang menyelimuti seluruh Gedung Widyaloka pada saat pengumuman, seketika berganti riuh tepuk tangan dan ucapan selamat setelah disebutkan pengumuman juara umum dari CLFest yakni Universitas Sebelas Maret. Untuk delegasi-delegasi CLFest dalam memperebutkan juara umum, terdapat beberapa kriteria untuk dipenuhi “Poiin-poin tersebut diambil dari lomba-lomba yang ada kemudian dijumlahkan, maka ketemulah poin paling tinggi dipegang oleh universitas mana. Maka dalam hal ini poin tertinggi dari Universitas Sebelas Maret,” ujar Abduh Jers selaku panitia CLFest di divisi kompetisi. Kemudian untuk indikator poin yang terbesar terdapat dalam perlombaan KAI dan KPUU yang bernilai tujuh poin. Juri dalam perlombaan ini pun diambil dari akademisi-akademisi yang ahli di bidangnya yang dipilih oleh divisi kompetisi CLFest. “Dari juri berkas, kebetulan semuanya dari FHUB. Lalu untuk juri presentasi, kami mengambil juri dari luar juga sesuai dengan kebutuhan kami. Kami membutuhkan akademisi yang bersedia untuk menjadi juri dan expert di bidangnya. Jadi kami tidak asal memilih akademisi,” tambah Abduh Jers. Selain juara umum, terdapat juara dari beberapa perlombaan lain CLFest. Juara dari KAI diraih oleh Universitas Islam Indonesia dengan nama kelompok Michael T. Molan. Kemudian dari perlombaan KPUU dimenangkan oleh Universitas Sebelas Maret dengan nama kelompok Soekarno. Dalam perlombaan ini Universitas Sebelas Maret tidak hanya menjadi juara satu, tetapi delegasinya juga mendapatkan gelar sebagai berkas terbaik. Kemudian untuk legal case discussion yang menjadi best speaker pertama ialah Irfan Fadillah dari Universitas Indonesia dan best speaker kedua ialah Shilvi Grisminarti dari Universitas Islam Indonesia. (zam/bmo)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.