Dua Aksi Warnai Hari Buruh Internasional di Kota Malang

ManifesT - Malang, Selasa (2/5) Kemarin merupakan hari yang menjadi peringatan besar bagi kalangan buruh dan pekerja, Hari Buruh Internasional atau biasa disebut dengan “May Day”. sejak pagi kemarin, di Alun-Alun Kota Malang dilangsungkan aksi untuk peringatan besar ini. Pada aksi kali ini Misdi selaku anggota Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) dan sekaligus menjadi Koordinator Lapangan (Korlap) menjelaskan bahwa ada beberapa isu yang ingin dituntut kepada pemerintah yang dibagi menjadi empat isu pokok dan sepuluh isu turunan. Diantaranya adalah tolak politik upah murah, cabut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, tolak PHK sepihak, hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing, pemberlakuan jam kerja sesuai dengan Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pendidikan gratis bagi anak buruh, terapkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara penuh, tolak pungutan liar (pungli) pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan dan ketenagakerjaan, lindungi kebebasan berserikat dan berpendapat bagi seluruh rakyat, penjarakan pengusaha yang melanggar hak normatif buruh, tolak keterlibatan militer di ranah sipil, berikan jaminan pekerjaan bagi seluruh rakyat, penuhi hak normatif bagi buruh perempuan, dan hentikan intimidasi serta diskriminasi kepada kaum buruh. 

Aksi yang diberi nama “Aksi Pentas Seni Perayaan 1 Mei 2017” tersebut dimulai sejak pukul 09.30 WIB, yang diawali dengan orasi politik yang disampaikan oleh korlap aksi, dan selanjutnya orasi dari berbagai perwakilan organisasi yang turut mendukung dalam aksi solidaritas tersebut. Aksi pada kali ini diikuti oleh 14 elemen organisasi yang tergabung dalam aliansi, diantaranya adalah SPBI, HMI UB, SMART, SGMI, ASF-MLG, GMNI FISIP UB, BEM FH UB, BEM FEB UB, KPO-PRS, LSS, KAMMI UM, IMM MALANG RAYA, PPM, dan FORDIMAPELAR. Selain itu aksi tersebut juga diisi dengan pembacaan puisi dan hiburan seni berupa penampilan dari beberapa musisi indie yang menyanyikan lagu-lagu perjuangan bersama para buruh. Aksi damai pun diakhiri dengan pernyataan sikap dari seluruh elemen.

“Kegiatan ini bukanlah aktivisme, akan tetapi berkelanjutan dengan segala upaya. Misalkan ada buruh yang dibawah UMK, ya kita akan sampaikan, akan tuntut. Namun yang terjadi pemerintah hanya sekedar masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Untuk itu kita juga menuntut ke Disnaker sebagai salah satu perwakilan pemerintah” ujar Misdi selaku korlap aksi. Misdi menjelaskan bahwa aksi kali ini berbeda dan bersifat kelanjutan dimana ketika memang tuntutan belum juga dipenuhi maka mereka akan terus bersuara keseluruh jajaran pemerintahan. Novada selaku humas pun menjelaskan bahwa dari pihak pemerintah sendiri lebih sering tidak menggubris tuntutan buruh, itulah mengapa setiap tahun tuntutan buruh hampir sama, hanya ada penambahan sedikit yang intinya sama.

Di depan Balaikota Malang juga tengah diadakan aksi serupa yang digelar Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI). Pada aksi penuntutan ini kurang lebih 500 buruh yang tergabung dalam satu aliansi yaitu FPBI. Adapun poin-poin tuntutan yang diajukan pada aksi ini adalah tolak upah murah, stop Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tolak Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015, union bastile, hapus Undang-undang kontrak kerja/Outsourcing, batalkan rencana Undang-Undang Magang, sekolah gratis sampai perguruan tinggi, kembalikan fungsi pengawasan ke Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) serta tolak BPJS. “Tuntutan kita tolak upah murah, karena tolak upak murah itu berdasarkan UU nomor 13 tahun 2003 Pasal 90. Kenapa menolak, minimum aja ndak cukup, tapi dimalang masih banyak perusahan yang membayar upah dibawah minimum.” Ujar Luthfi Chafidz selaku Ketua FPBI. Luthfi menuturkan pula bahwa pada tahun 2015 masih banyak buruh yang mendapatkan gaji dibawah UMK (Upah Minimum Kabupaten atau Kota).

Aksi yang digelar FPBI ini diisi dengan konvoi mengelilingi beberapa tempat yaitu Cokro, Pertigaan Blimbing, Bentul, melewati Pendem dan kembali berkumpul di depan Balaikota Malang. Setelah konvoi dilanjutkan dengan orasi dari Koordinator Lapangan (Korlap) aksi yaitu Luthfi Chafidz dan beberapa anggota FPBI yang lain. Berlangsungnya dua aksi di dua tempat di Alun-Alun dan Balaikota ini berjalan dengan aman dan lancar, serta tidak menimbulkan terhambatnya lalu lintas Kota Malang. AKBP Hoirudin Hasibuan selaku Kapolres Kota Malang menegaskan bahwa dua aksi ini mengerahkan personil keamanan dengan jumlah yang seimbang di masing-masing tempat. (/fis,/zam,/dew)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.